Menurut Penelitian, Banyak Kaum Milenial Malu Jadi Milenial

Penulis: AdminEditor: Redaksi Expresi Senin, 15 November 2021
Menurut Penelitian, Banyak Kaum Milenial Malu Jadi Milenial

tampak lebih bangga dengan label mereka.

di mata orang lain. Pemalas, manja, dan boros hanyalah segelintir contoh kesan jelek yang melekat dalam diri milenial. Walden menganggap ada lebih banyak artikel “clickbaity” tentang generasi milenial daripada generasi lainnya. “Generasi kita bernasib buruk karena memasuki dunia kerja dan menjadi pemula pada saat internet masih dalam masa remajanya. Kita menjadi sorotan,” terangnya.

Riikka tak pernah suka dipanggil milenial dan digambarkan sebagai pemakan alpukat yang matre dan terobsesi dengan diri sendiri. “Kita dijelek-jelekkan banyak orang — tak ada yang menyukai [generasi] kita. Semua orang mengolok-olok apa saja yang kita lakukan,” keluh Riikka.

Memang, ada kalanya kritik yang diterima generasi milenial masuk akal, tapi Riikka merasa hujatan yang datang bertubi-tubi sering kali tidak adil. “Kalau tidak salah pada 2017, orang-orang mengejek, ‘Milenial gak bisa beli rumah, gak bisa melakukan ini-itu, karena merekalah planet hancur’. Lalu kemudian, ‘Kalian yang menciptakan pasar ini buat kami. Kalian dulu bisa beli rumah karena harganya murah.’”

Apakah Gen Z tidak pernah dirundung seperti milenial? Bagaimana bisa mereka terbebas dari hinaan? Ebony berpikir Gen Z serba tahu.

.” Istilah yang tak pernah terpikirkan sama sekali oleh generasi milenial.

Poppy, 19 tahun, menduga generasinya lebih cuek daripada milenial. “Terkadang saya berpikir, ‘Saya bisa saja kesal saat dihina, tapi dunia ini sedang tidak baik-baik saja, jadi saya mending fokus pada hal yang lebih mendesak,’” jelasnya.

Dia percaya alasannya karena dunia Gen Z sudah sangat online sejak mereka masih kecil. “Saya ingat punya Instagram sebelum waktunya, dan saya berurusan dengan komentar jahat yang terus bergulir. Mungkin perbedaannya dari generasi kami yaitu milenial tidak tumbuh dengan banyak perhatian online.”

Bagikan