Rebahkan Pinang Ayu Tandai Berakhirnya Erau Adat Kutai 2026

Penulis: Admin Senin, 28 September 2026
Rebahkan Pinang Ayu Tandai Berakhirnya Erau Adat Kutai 2026

EXPRESI.co, TENGGARONG — Rangkaian sakral Festival Erau Adat Kutai 2026 resmi berakhir setelah prosesi penurunan Pinang Ayu dilaksanakan di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Senin (28/9/2026). Prosesi tersebut menjadi penanda selesainya seluruh tahapan adat sekaligus berakhirnya masa pantangan yang dijalani Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memastikan seluruh rangkaian Erau dilaksanakan secara utuh, mulai dari pembukaan hingga prosesi penutupan.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan penurunan Pinang Ayu menjadi bagian akhir dari keseluruhan prosesi sakral Erau Adat Kutai 2026.

"Ini merupakan bagian dari rangkaian keseluruhan Erau Adat Kutai 2026. Kita akan menyelesaikan seluruh tahapan sehingga menjadi satu rangkaian yang utuh dan tidak terpisahkan satu dengan yang lain," ujar Aulia.

Setelah prosesi penurunan Pinang Ayu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ziarah. Agenda tersebut kemudian diteruskan dengan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kukar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244.

Aulia mengaku bersyukur pelaksanaan Erau tahun ini berjalan sesuai harapan. Antusiasme masyarakat dan jumlah pengunjung yang hadir dalam berbagai kegiatan menjadi salah satu catatan dalam penyelenggaraan Erau 2026.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bahan bagi Pemkab Kukar untuk mempersiapkan pelaksanaan Erau pada 2027. Pengembangan kegiatan akan tetap diarahkan dengan mempertahankan nilai sakral dan adat istiadat Kesultanan.

Pelaksanaan Erau 2026 sendiri merupakan hasil kolaborasi Pemkab Kukar bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Untuk penyelenggaraan tahun depan, sejumlah pihak juga telah menyatakan komitmen untuk memberikan dukungan.

Rebahkan Pinang Ayu Tandai Berakhirnya Erau Adat Kutai 2026

Dukungan tersebut di antaranya berasal dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, serta badan usaha di lingkungan Kabupaten Kukar.

"Kita berharap kolaborasi ini bisa kita orkestrasi untuk Erau 2027 sehingga lebih semarak lagi, tanpa meninggalkan sisi sakralitasnya. Sakralnya tetap kita jaga, sementara sisi seremonialnya bisa kita kembangkan agar lebih meriah dan semakin terasa menjadi milik masyarakat Kutai Kartanegara," tuturnya.

Sementara itu, Pangeran Mangku Patih Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Dhanur Dwi Jatmiko, menjelaskan Pinang Ayu memiliki makna kemakmuran dari tanah Kutai.

Menurutnya, penurunan Pinang Ayu yang dikombinasikan dengan Sangkopiatu menjadi tanda resmi berakhirnya rangkaian Erau secara adat.

Sebelum prosesi tersebut dilaksanakan, Sultan telah melewati masa pantangan adat melalui sejumlah tahapan. Di antaranya prosesi Rangga Titi dan Ketayungan yang menjadi bagian dari rangkaian Bepelas hari ketujuh.

"Prosesi Ketayungan menjadi bagian dari ungkapan sukacita Sultan setelah melewati masa pantangan. Tapi, secara adat, penutupan resmi tetap ditandai dengan penurunan Pinang Ayu," ujarnya.

Dhanur mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026. Menurutnya, kegiatan tahun ini mendapat perhatian luas dari media dan berlangsung relatif kondusif tanpa kejadian signifikan.

Ia berharap hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Erau tahun ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pada tahun berikutnya, dengan tetap menjaga nilai dan tahapan adat yang menjadi bagian penting dari Erau. (Adv)

Bagikan