
Kisah Sineas yang Sukses Tanpa Harus ke Jakarta
Banyak�orang membutuhkan tali pecut untuk memaksa diri merealisasikan mimpi lama yang hampir kukut. Buat Wei Wei Guo, pecutan itu adalah film panjang berjudul�Senja di Pulau Simping�(2012).
Film karya sutradara Lo Abidin itu sebenarnya hanya satu�dari ratusan film buatan �sineas Tionghoa di Kota Singkawang�sepanjang�2010-2015. Rentang waktu ini diingat Wei sebagai era emas�industri film�lokal di�kotanya,�berjarak�145 kilometer dari Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat. Seingat Wei, hampir�semua karya mendapat sambutan hangat dari penduduk setempat.
Kedatangan rumah produksi�film�dari Jawa, yang kerap merekam bangunan budaya Tionghoa di Singkawang untuk keperluan syuting adegan berlatar pecinan (seperti�Bakpao Ping-Ping,�2010), memotivasi penduduk setempat untuk coba-coba bikin karya sendiri. Selain berkaraoke, menonton film memang hobi favorit warga�Singkawang. Maka, tidak perlu heran melihat pemutaran film lokal seperti�Senja di Pulau Simping�laris manis. Bisa bikin produk dan punya konsumen setia, industri film lokal di Singkawang terpantau cerah.
Wei makin gelisah.�Saat�Senja di Pulau Simping�rilis, ia sudah satu dekade menekuni usaha jasa dokumentasi pernikahan. Perihal�mengoperasikan�kamera digital, ia mungkin salah satu yang tercakap di kotanya. Kesuksesan Lo Abidin�kini anggota DPRD Singkawang�melecutnya untuk merealisasikan mimpi�membuat film panjang pertama yang�sudah�ia�pikirkan sejak�memulai�usaha videografi.
�Beberapa film lokal lain [selain�Senja di Pulau Simping] juga memotivasi saya untuk bikin film panjang karena saya berpikir pasti bisa bikin dengan hasil lebih baik. Waktu saya menonton filmnya, saya udah berpikir kalau saya bisa bikin film yang lebih bagus,� kata Wei yang punya nama Indonesia Susanto Gunawan, kepada VICE. �Melihat antusiasme�masyarakat [Singkawang] yang mau menonton dan mendukung film lokal, akhirnya saya putuskan utnuk produksi film panjang.�
Skenario dibuat, tim dibentuk. Rasa cintanya pada aktor�Stephen Chow�memengaruhinya untuk memfilmkan Li Bun Ku, sosok�folk hero�asal Tiongkok pada masa Dinasti Qing (1644-1912). Kepada kami, Wei mencoba memudahkan penjelasan dengan menganalogikan Li Bun Ku ini sebagai �Abu Nawas�-nya Tiongkok: cerdas, jenaka, namun�annoying.�Lewat filmnya, pria 45 tahun itu berandai-andai bagaimana jadinya bila Li Bun Ku hidup di zaman sekarang.
Terciptalah film�Li Bun Ku: In New Era�yang ia rilis pada 2013,�dipaskan dengan perayaan�Imlek. Wei tercatat sebagai produser sekaligus juru kamera. Film ini�menggunakan dialek�Hakka/Khek�penuh, bahasa dominan yang�dipakai�penduduk Singkawang. Wei mengklaimnya sebagai film sineas Tionghoa lokal pertama yang menggunakan�kamera DSLR. Biaya pembuatannya:�Rp20 juta.
Proses pemasaran film untuk setidaknya balik modal sudah ia pikirkan jauh-jauh.�Trailer�diunggah di YouTube satu bulan sebelum rilis untuk menggoda penonton sembari memamerkan visual bokeh-bokeh kamera DSLR yang saat itu masih terbilang baru. Wei lantas menyewa sebuah gedung bioskop�bernama �Studio��yang biasa memutarkan film lokal sineas Tionghoa. Untuk pemutaran di ruang berkapasitas 300 penonton�itu,�Wei menjual tiket Rp25 ribu�per kepala.
�Film kami meledak sekali. Kapasitas gedung selalu penuh saat saya sewa 10 hari, kami sampai harus nambah tempat duduk. Sampai orang luar kota khusus datang ke Singkawang mau nonton film ini,� kenang Wei. Untuk meramaikan pemutaran,�ia�meminta temannya yang bekerja di usaha percetakan untuk jadi sponsor dengan mencetak spanduk, lalu menghubungi jejaringnya di perusahaan telekomunikasi�guna�mendukung acara dengan menyediakan kartu perdana gratis kepada pembeli tiket.
Selesai masa penayangan di Studio, Wei melanjutkan momen dengan mencetak 8 ribu keping DVD�Li Bun Ku�untuk diperjualbelikan. Candu menonton dan berkaraoke warga Tionghoa Singkawang bikin kehadiran toko penjualan DVD menjamur.�Wei yakin melihat koneksi internet cepat masih jarang tersedia, DVD masih akan jadi favorit warga�sementara ini. Per keping�film�ia banderol Rp20 ribu, beberapa toko menjualnya sampai dua kali lipat. Ia tak ambil pusing selama dagangannya laku.
Tak hanya balik modal, Wei ketiban rezeki dengan omset sekitar Rp250 juta. Mimpi tercapai, bonus banjir uang tunai. Buat apa ke Jakarta?
��JAKARTA�jelas adalah kunci.�Market�dan�network-nya sudah kebentuk di sana. Kalau yang diharapkan main film komersil tingkat nasional, pindah ke Jakarta jelas memudahkan banyak hal,� kata pemerhati film Adrian Jonathan Pasaribu saat VICE tanyai seputar keunggulan pindah ke�Ibu�Kota�bagi pekerja film.
Adrian menggarisbawahi pentingnya jejaring dalam industri. Buat para aktor, tinggal di pusat membuka kesempatan lebih besar untuk bicara�dengan�produser, sutradara,�casting director, manajemen, sesama aktor, atau klinik akting. �Ini orang-orang yang mungkin enggak terlalu kelihatan buat khalayak umum. Di Jakarta, jejaring itu lebih luas dan dalam,�sehingga logisnya membuka banyak peluang. Tinggal di Jakarta jelas menawarkan�competitive edge�sendiri, mengingat banyak jejaring yang kokoh justru lewat relasi personal dan tongkrongan.�
Dua kota lain yang punya�fondasi industri�film�yang lumayan kokoh adalah Yogyakarta dan Makassar. Produksi film, komersil maupun tidak, terus bertumbuh. Adrian mengakui memang secara nominal masih jauh dari Jakarta, tapi peluang yang diberikan terhitung lumayan. Banyaknya produksi meningkatkan kemungkinan meledaknya produk dari dua kota ini dan membuka peluang baru bagi aktor-aktornya.�Kasus Bu Tedjo dalam�Tilik�(2020) bisa jadi contoh. Adrian menceritakan, pemeran Bu Tedjo kini bolak-balik syuting ke Jakarta setelah film itu populer.
Godaan besar pindah ke kota �besar� pernah menyambangi Rifky Husain. Setidaknya sampai hari ini, ia memilih bertahan.��Dulu�sempat ditanya dan ditawarin [pindah Jakarta]. Terus suka [kami bercandain],��Ah kau lah, masa harus ditentukan nasibnya dan ditunjuk-tunjuk sama orang di sana?�. Tapi ya ini pilihan. Di sini ekosistem [film]-nya enggak semaju sana�[Jakarta], pemerintahnya juga [kurang mendukung],� jawabnya.
Rifky adalah pembuat film�di�Ambon, Maluku. Ia terlibat dalam banyak proyek seperti film pendek�Munysera�(2017) sebagai produser dan penulis naskah, dokumenter�Pendayung Terakhir�(2017) sebagai produser, film pendek�Hana�(2016) sebagai sutradara, dan dokumenter�Provokator Damai�(2013) sebagai sutradara. Bersama para sineas dan seniman lain, ia tergabung dalam kolektif seni Ambon Bergerak.
Diskusi,�workshop, pemutaran film, sampai kolaborasi dilakukan para pekerja film Ambon untuk berkembang. Jejaring dengan sineas di luar wilayah membuka akses ke berbagai kesempatan seperti hibah dana, proyek, dan festival film. Geliat sineas lokal dimulai sekitar 2010 karena teknologi kamera DSLR mulai akrab ditemui, membuat kegiatan merekam gambar menjadi lebih merakyat.
Masalahnya, membuat film�tak cuma berurusan dengan�kemampuan mengoperasikan kamera dan naskah bagus.�Ada dana besar yang harus dikeluarkan. Rifky mengaku kesulitan mencari investor�film-filmnya. Ia dan kolega kerap menunggu informasi seputar�call for proposal�dari lembaga di Jakarta untuk bisa produksi film.�
Tantangan berkarya dari jauh ini dihadapi dengan semangat kolektif.��Kalau ngomongin Timur, kerja sendiri enggak mungkin. Saya punya kamera, yang lain punya�lighting, yang lain punya�boom�[pole]. Kami harus gabung dengan teman-teman lain. Kebanyakan sih karya kami karya kolaborasi, enggak berdiri sendiri,� jelasnya.�
Situasi kondusif untuk berkembang secara komunal membuat skena film Ambon mampu�melahirkan talenta keren seperti penulis skenario Irfan Ramli serta aktor�muda�Bebeto Leutualy dan Aufa Assagaf.�Nama-nama tersebut�mencuri perhatian nasional saat terlibat di film�Cahaya dari Timur: Beta Maluku�(2014) garapan Angga Dwimas Sasongko.�Usai film itu, ketiganya memutuskan pindah ke Jakarta.
Bagi�Rifky, idealisme membuatnya memutuskan tetap di Maluku, meski sadar betul akan sulit memenuhi hidup seutuhnya�dari�sinema, �Kalau ngomongin industri film layar lebar, berkarya di daerah agak susah. Pasarnya kecil, ekosistemnya belum mendukung. Kalau sekadar film pendek dengan sistem komunitas kayak yang kami bikin, masih mungkin. Tapi, kalau bener-bener komersil [sulit],� katanya.
Menempatkan produksi film sebagai�passion project, Rifky menyebut banyak sineas Maluku yang akhirnya mencari pekerjaan lain untuk menopang hidup. Ia sendiri sempat menjadi dosen serta tenaga lepas di beberapa perusahaan. Yang terpenting, mimpi untuk membangun ekosistem di daerah sendiri masih terus dipelihara. Cita-citanya, sineas Maluku bisa hidup dari membuat film. Semangat berproduksi terus dikibarkan. Meski sudah banyak kolega yang punya pekerjaan lain, namun begitu ada panggilan produksi, anggota komunitas yang terpencar siap hadir dan membantu.
�Kemarin kami sempat diskusi kecil untuk bikin�series�dulu biar bisa penetrasi [pasar].��Paling memungkinkan teman-teman daerah buat masuk ke industri. Mungkin [tayang] di platform�online�kayak Netflix. Sebenarnya banyak macam cerita dan ide [yang] enggak semua orang Jakarta bisa produksi. Orang butuh ide baru terutama lebih banyak konten di luar budaya mereka,� kata Rifky. �Apabila semakin banyak orang mau bikin film, otomatis industrinya tumbuh.�
�BOWO LEKSONO�menyambut tantangan berkarya dari daerah dengan fokus di jalan regenerasi. Ia mengajar sebanyak mungkin pelajar di�daerahnya�mengenai proses di balik penciptaan film. Tujuannya simpel: semakin banyak yang memiliki ilmu film, semakin besar pula potensi berkembangnya skena film Purbalingga, sebuah kabupaten sejuk di kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah.
Bowo mencoba membangun industri film di Purbalingga setelah terinspirasi dari para seniman di Jakarta yang ia wawancarai�semasa jadi�jurnalis. Pada 2004,�ia menghubungi kelompok teater lamanya di kampung sebagai langkah mula membentuk komunitas film.
�Saya pikir kalau saya kembangkan [film] di Jakarta,�ya istilahnya kayak menggarami lautan. Di Jakarta udah ada banyak [sineas] karena setidaknya ada IKJ sebagai basis anak-anak film di Jakarta,� kenangnya.
Perjuangan Bowo dimulai dengan penggarapan film�Peronika�(2004) yang fenomenal�di wilayah berbahasa Ngapak. Pemutaran di berbagai daerah dilakukan sembari memperkenalkan dirinya sebagai sineas asal Purbalingga. Pada 2006, Bowo membentuk Cinema Lovers Community (CLC) sebagai payung lembaga yang menaungi program-programnya. Beberapa pekerja video yang punya usaha jasa dokumentasi diajak bergabung untuk bersama mengembangkan Purbalingga. Sampai hari ini, CLC masih aktif mengawal program film seperti pemutaran,�workshop, atau proyek produksi film.�
Pada 2007, Festival Film Purbalingga (FFP) pertama digelar. Semangat regenerasi yang dibawa menuntut penyediaan wadah bagi pelajar untuk memamerkan karyanya. FFP hadir menyediakan itu.
Meski sudah mulai aktif mengembangkan film di Purbalingga,�Bowo�masih berdomisili di Jakarta dengan alasan membangun komunitas ya juga butuh biaya.�Ia baru pulang kandang pada 2010. Ia ingin secara fisik setiap hari ada�untuk�memikirkan program pengembangan selanjutnya.
�Di tahun kepulangan saya, kami bikin ekstrakurikuler film ke sekolah-sekolah setingkat SMA. Pertimbangannya: saat itu kampus swasta cuma satu-dua, sementara kampus negeri adanya di Purwokerto�[kota sebelah]. Saya pengennya [target] dari pelajar karena [ada potensi] mengembangkan di masa depan. Yang tertarik bisa melanjutkan kuliah film,� katanya.
Sadar bahwa sekolah film mahal, Bowo bersama CLC juga mendesak pemerintah daerah untuk proaktif memberikan beasiswa kepada bakat-bakat daerah. Ia berujar, saat itu perhatian pemerintah masih terlalu tertuju pada siswa yang melanjutkan kuliah di bidang yang populer seperti kedokteran.
Sampai hari ini, CLC masih aktif berkomunitas. Ada enam program tahunan utama yang rutin dilaksanakan, termasuk festival. Fokus pengembangan diri bersama komunitas membuat Bowo paham benar konsekuensi yang hadir: pasti ada anggota yang cabut karena dapat kerjaan lain.
�Mereka juga butuh hidup, apalagi yang sudah enggak sekolah atau kuliah. Saya enggak bisa menahan mereka ketika mereka mau punya pekerjaan lain. Otomatis, hanya akhir pekan bisa bergabung. Ya enggak apa-apa, diatur aja ritmenya,� cerita Bowo menjelaskan dinamika kerja komunitas.
Hidup di daerah juga membuat Bowo mengelola ekspektasinya kepada para pelajar, �Yang terpenting anak-anak muda belajar banyak hal lewat medium film. Saya enggak berharap mereka jadi�filmmaker, itu berat banget. Di kampung itu yang namanya orang tua masih kepengin anaknya jadi PNS. Terpenting, film jadi alat anak-anak muda untuk belajar banyak hal di sekitarnya. Film dibuat dengan kegelisahan. Harus ngomongin sesuatu, jadi enggak asal.�
Dampak positifnya, bertahun-tahun melakukan regenerasi sineas muda di Purbalingga membuat Bowo memiliki banyak stok anak muda untuk diajak kerja bareng, khususnya saat butuh tenaga dalam menggarap proyek video, film, atau menggelar festival. �Kalau ada program, kumpul semua. Apalagi kalau festival film, terutama teman-teman yang udah pada kuliah di Jogja, Solo, Jakarta.�
Untuk menyokong hidupnya, punggawa CLC kerap membuat video-video pesanan sebab banyak lembaga di daerah, pemerintah maupun non-pemerintah, yang membutuhkan jasa pembuatan video. Godaan pindah kota "besar" memang ada. Namun, kenyamanan dan kepuasan hidup yang didapat Bowo bersama CLC masih jadi pemenangnya. Biar calon-calon sineas masa depan Purbalingga saja yang mengais ilmu ke luar kampung.
�SETELAH 2015,�produksi film sineas Tionghoa di Singkawang menurun drastis karena dua alasan. Pertama,�gedung Studio sudah dialihfungsikan menjadi museum, tak ada lagi tempat sineas lokal memamerkan karyanya sembari mendapatkan penghasilan. Kedua, internet makin familier�membuat�penjualan DVD luluh lantak. Penduduk kini menonton film�di�internet. Beberapa sineas bahkan trauma karena karya yang mereka jual lewat DVD justru diunggah ulang di YouTube oleh orang tak bertanggung jawab.
�Hal-hal itu membuat sineas-sineas Singkawang akhirnya makin mundur. Film yang dihasilkan enggak bisa dikomersilkan untuk mengembalikan modal,� kata Wei.�
Kemewahan berkomunitas milik Bowo dan Rifky untuk menghadapi masa-masa sulit tidak begitu dirasakan Wei. Untuk saling berbagi ilmu, ia lebih sering bergabung dengan komunitas sineas Melayu di Singkawang atau malah menyeberang ke Pontianak. �Enggak suka bikin forum. Mungkin ini karakter sineas Tionghoa di Singkawang. Saya [pernah] lihat beberapa produksi [lalu] saya coba ajak berkomunikasi [sineas Tionghoa lain] untuk berkumpul, mereka tak ada reaksi,� keluh Wei. Ia hanya bisa mengira-ngira karena tak paham mengapa kolega di lingkungannya tidak bisa diajak berkolaborasi.
Wei kini fokus mengembangkan toko pakaiannya di samping terus melanjutkan usaha dokumentasi pernikahan. Tak terbesit keinginannya untuk pindah kota. Di Singkawang, Wei masih memelihara mimpinya rutin memproduksi film dari tanah kelahirannya. Ada satu film siap tayang yang masih ia simpan sejak 2019. Tanggal rilis tertahan dua tahun, ia masih kebingungan mencari cara agar setidaknya balik modal.
�Mungkin tahun depan saya ikhlaskan untuk tayang gratis di YouTube,� tutup Wei.
Berita Terkait Lainnya

40 Ton Pupuk Subsidi dari Sulsel Diselundupkan Ke Perusahaan Sawit di Pasangkayu Ditangkap Polresta Mamuju!

KPU Bontang Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat, Tingkatkan Pelayanan Ramah Disabilitas

Tebar Kepedulian, Polresta Mamuju Layani Antar Jemput Santri Pondok Pesantren Hidayatullah

