Penanganan Karhutla Kukar Membaik, Titik Hotspot Terus Berkurang

EXPRESI.co, TENGGARONG — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan perkembangan positif. Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau dilaporkan terus berkurang seiring dengan penguatan koordinasi antara satuan tugas, lintas sektor, dan perusahaan di lapangan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan status penanganan bencana di daerah saat ini masih berada pada kondisi siaga bencana, sejalan dengan status yang ditetapkan pemerintah provinsi.
"Kalau statusnya kan sebenarnya masih siaga bencana ya. Itu sama dengan status yang ditanggung oleh pemerintah provinsi," ujar Sunggono.
Menurutnya, kondisi karhutla di Kukar secara umum menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Berdasarkan laporan dari Satgas Tim Pengendalian Bencana Kebakaran Hutan dan Kekeringan, titik hotspot yang sebelumnya terpantau di sejumlah wilayah kini mengalami penurunan.
"Kalau dari laporan teman-teman di Satgas Tim Pengendalian Bencana kebakaran hutan dan kekeringan titik-titik hotspot-nya sudah semakin banyak berkurang. Ya, sudah sangat banyak berkurang," katanya.
Sunggono menyebut membaiknya kondisi tersebut turut didukung koordinasi penanganan yang dilakukan secara bersama. Selain antara unsur dalam satuan tugas, koordinasi juga melibatkan lintas entitas sektoral serta perusahaan yang beraktivitas di wilayah Kukar.
"Semakin lama semakin baik koordinasi penanganannya, baik antara kami di Satgas ataupun juga dengan lintas entitas sektoral dan juga perusahaan-perusahaan yang ada di lapangan," jelasnya.
Meski jumlah hotspot terus menurun, upaya pengendalian tetap dilakukan mengingat kondisi cuaca masih berpotensi mendukung terjadinya kebakaran. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus memantau perkembangan di lapangan selama masa siaga bencana.
Terkait kondisi cuaca ke depan, Sunggono mengatakan pemerintah masih mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan perkiraan tersebut, hujan diproyeksikan mulai turun pada awal November.
"Kalau lihat dari ramalan BMKG itu kan awal hujan itu baru diperkirakan di awal November itu. Baru mulai," tuturnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla dan kekeringan di Kukar. Pemerintah daerah akan terus memperkuat pemantauan dan koordinasi dengan berbagai pihak hingga kondisi cuaca memasuki periode yang lebih basah. (Adv)




