Pasokan Air Menipis, Sejumlah Unit Pembenihan Ikan di Kukar Berhenti Sementar

Penulis: Admin Rabu, 14 Oktober 2026
Pasokan Air Menipis, Sejumlah Unit Pembenihan Ikan di Kukar Berhenti Sementar

EXPRESI.co, TENGGARONG — Kekeringan akibat anomali iklim mulai menghambat kegiatan pembenihan ikan di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Untuk mengantisipasi gangguan produksi yang lebih luas, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar mempertimbangkan pemanfaatan sumur bor dan pompanisasi guna menjaga ketersediaan air di lokasi budidaya.

Kepala DKP Kukar, Muslik, mengatakan dampak kekeringan terutama dirasakan pada unit pembenihan yang menggunakan kolam tanah. Ketika sumber air mengering, kegiatan pembenihan sulit dilanjutkan karena proses produksi membutuhkan pasokan air yang cukup dan berkelanjutan.

"Untuk program budidaya, kondisi anomali iklim dan cuaca saat ini menjadi tantangan, terutama kegiatan pembenihan yang menggunakan kolam tanah. Ketika airnya mengering, tentu aktivitasnya ikut terkendala," ujar Muslik.

Menurutnya, sebagian unit pembenihan terpaksa menghentikan kegiatan sementara akibat keterbatasan air. Kondisi berbeda dialami lokasi yang memiliki akses lebih dekat dengan Sungai Mahakam, karena sumber air masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas pembenihan.

Salah satunya adalah balai benih yang berada di dekat Sungai Mahakam. Akses terhadap sumber air tersebut memberikan peluang bagi kegiatan pembenihan untuk tetap berjalan meski kondisi cuaca sedang kering.

Melihat perbedaan kondisi di setiap lokasi, DKP Kukar mempertimbangkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk pembangunan sumur bor dan penggunaan pompa untuk membantu memenuhi kebutuhan air. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan ketersediaan sumber air di masing-masing lokasi.

"Ke depan, mungkin bisa kita antisipasi melalui sumur bor atau pompanisasi. Ini menjadi salah satu upaya mitigasi agar ketersediaan air tetap terjaga, terutama ketika menghadapi kondisi cuaca seperti sekarang," tuturnya.

Muslik menjelaskan, tidak semua kolam memiliki akses yang memadai terhadap sungai atau sumber air lainnya. Kolam yang berada jauh dari sumber air cenderung lebih rentan mengalami kekurangan pasokan ketika musim kering berlangsung.

Karena itu, penanganan dampak kekeringan tidak bisa diseragamkan. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebutuhan air, karakteristik lokasi, serta kelayakan sarana pendukung sebelum menentukan langkah yang dapat diterapkan.

Muslik mengakui, pada kolam yang mengalami kekurangan air, penghentian sementara kegiatan pembenihan menjadi langkah yang sulit dihindari. Opsi sumur bor dan pompanisasi diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya antisipasi untuk menghadapi kondisi serupa pada masa mendatang.

Melalui langkah mitigasi tersebut, DKP Kukar berupaya mengurangi gangguan terhadap produksi benih ikan dan menjaga keberlanjutan usaha perikanan budidaya di tengah perubahan kondisi iklim. (Adv)

Bagikan