Kebutuhan Telur untuk MBG Naik, Produksi Lokal Kukar Belum Mencukupi

EXPRESI.co, TENGGARONG — Kebutuhan telur di Kutai Kartanegara (Kukar) diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, produksi telur dari peternak lokal saat ini belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Moh. Rifani, mengatakan telur menjadi salah satu komoditas yang semakin dibutuhkan dalam pemenuhan pangan bergizi. Peningkatan jumlah dan aktivitas SPPG turut mendorong bertambahnya kebutuhan terhadap pasokan telur.
“Kebutuhan akan telur pasti meningkat, apalagi dengan adanya MBG,” kata Rifani.
Menurutnya, telur memiliki peran penting sebagai sumber protein dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Kebutuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan program penanganan stunting pada anak, tetapi juga pemenuhan gizi kelompok lainnya, termasuk remaja perempuan.
Meningkatnya kebutuhan tersebut belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh produksi telur dari peternak Kukar. Untuk menjaga ketersediaan pasokan, kebutuhan telur masih harus dipenuhi sebagian dari luar daerah.
“Memang kita masih belum secara utuh kita belum bisa memenuhi secara keseluruhan. Jadi kadang-kadang ada impor juga dari luar daerah dan sebagainya,” ujarnya.
Rifani mengatakan produk peternak lokal sejauh ini telah diserap untuk kebutuhan SPPG. Namun, kapasitas produksi yang tersedia belum mencukupi seluruh kebutuhan yang terus berkembang.
“Lokal, iya, lokal,” katanya saat ditanya mengenai penyerapan telur lokal oleh SPPG.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Distanak Kukar karena peningkatan kebutuhan pangan bergizi perlu diikuti dengan penguatan produksi di daerah. Salah satunya melalui pengembangan usaha ayam petelur dan ayam pedaging.
Rifani mengatakan pemerintah daerah terus mendorong petani dan peternak untuk meningkatkan usaha budidaya guna memperkuat kapasitas produksi pangan asal ternak.
“Ini yang kita support teman-teman petani dan sebagainya untuk bisa berusaha budidaya baik telur maupun pedaging,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan produksi telur lokal tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan SPPG dan MBG. Peningkatan kapasitas peternakan juga diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pangan sumber protein bagi masyarakat Kukar secara berkelanjutan.
Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan telur melalui program pemenuhan gizi juga dinilai membuka peluang bagi peternak lokal untuk memperluas usaha. Jika kapasitas produksi dapat ditingkatkan, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan secara bertahap.
Distanak Kukar pun terus mendorong pengembangan ayam petelur sebagai salah satu bagian dari penguatan sektor peternakan daerah. Selain mendukung kebutuhan program pangan bergizi, pengembangan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi petani dan peternak.
“Makanya itu yang kita support teman-teman petani dan sebagainya untuk bisa berusaha budidaya,” pungkas Rifani. (Adv)




