Kabut Asap Berbeda Tiap Wilayah, Kebijakan Sekolah di PPU Tak Dipukul Rata

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, tidak menerapkan kebijakan seragam terhadap sekolah di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di beberapa wilayah daerah ini.
Plt Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) PPU Muhtar mengatakan kondisi kabut asap di setiap wilayah berbeda.
Ketika ada kondisi darurat, pemerintah menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi udara di masing-masing wilayah.
Artinya pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan ketika kondisi udara dinilai tidak sehat bagi peserta didik.
“Kalau udaranya sudah tidak layak, ya kita PJJ. Kalau masih sehat, kita tetap tatap muka,” kata Muhtar, Selasa (29/9/2026).
Di Kecamatan Babulu, misalnya, kabut lebih terlihat pada pagi hari. Kondisi tersebut berangsur membaik ketika memasuki siang sehingga pembelajaran di sekolah tetap dapat berlangsung.
Dalam kondisi seperti itu, sekolah diminta mengurangi aktivitas peserta didik di luar ruangan, terutama ketika kabut masih terlihat pada pagi hari. Kegiatan belajar tetap diarahkan berlangsung di dalam kelas.
“Kalau seandainya ada sedikit kabut mungkin kita hanya mengimbau mengurangi aktivitas di luar lapangan, di dalam kelas saja. Tapi kalau sangat jelek, itu kemungkinan PJJ,” ujar Muhtar.
Menurut dia, kondisi di Babulu berbeda dengan Kecamatan Sepaku. Di wilayah tersebut, Disdikpora sempat menerapkan PJJ karena kondisi udara dinilai tidak sehat.
Muhtar mengatakan kabut asap yang menyelimuti Sepaku saat itu juga dipengaruhi asap dari wilayah Kalimantan Tengah.
“Sepaku memang kemarin itu kabut kiriman dari Kalimantan Tengah. Memang sangat tidak layak, tidak sehat, makanya kita terapkan di sana untuk PJJ,” katanya.
Perbedaan kondisi tersebut membuat Disdikpora memilih pendekatan berdasarkan situasi lapangan. Tidak semua sekolah harus beralih ke PJJ ketika kabut asap muncul, tetapi sekolah juga tidak dipaksakan tetap melakukan pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara sudah membahayakan.
Penyesuaian juga bersifat sementara. Ketika kondisi udara membaik, sekolah dapat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.
“Kalau memungkinkan, kemarin sudah diinstruksikan untuk satuan pendidikan kalau udaranya bagus mengambil keputusan masuk,” terangnya. (ADV)




