Hadapi Turbulensi Anggaran Pemkot Bontang Janji Prioritaskan Kesejahteraan Guru

EXPRESI.co, BONTANG - Situasi pemangkasan anggaran yang terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia sangat mempengaruhi jalannya pemerintahan.
Seperti di Bontang, sejumlah rencana pembangunan seperti infrastruktur yang semula akan dijalankan harus dibatalkan.
Meski begitu, komitmen dalam menjaga mutu pendidikan sekalipun menghadapi tantangan pemangkasan transfer keuangan daerah, teta dijalakan Pemerintah Kota Bontang.
Hal ini ditegaskan Wali Kota Neni Moerniaeni saat menjadi narasumber utama dalam Dialog Pendidikan yang digelar oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bontang di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Jalan Awang Long, Rabu 20 Mei 2026 kemarin.
Dialog dengan tema "Turbulensi Fiskal Daerah Menjaga Mutu Pendidikan di Tengah Pemangkasan Transfer Keuangan Daerah" ini diikuti para guru negeri dan swasta.
Juga menghadirkan Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Timur, Jarwoko dan Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang, Heri Keswanto.
Kata Neni Moerniaeni dalam sambutannya, kemampuan fiskal Bontang sebelumnya aman-aman saja, namun tekanan fiskal masa kini menjadi keresahan dan kebimbangan bagi sebagian Kabupaten/kota. Namun, Pemkot Bontang bersama DPRD berkomitmen mengalokasikan anggaran pendidikan dari APBD Kota Bontang.
"Dalam susunan APBD, postur dana pendidikan kami diprioritaskan, kita bahkan menaikkan insentif bagi guru swasta," tegasnya.
Neni menegaskan, pihaknya memilih untuk menunda proyek infrastruktur fisik yang kurang mendesak demi menjamin SPM pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik.
Menurutnya, di saat ruang fiskal menyempit, pemerintah daerah harus bijak menentukan prioritas.
"Proyeksi fiskal dari Rp3 triliun menjadi Rp1,9 triliun, kita alihkan prioritas utama pada peningkatan SDM sebagai inovasi," sebutnya.
Salah satunya, kata Neni, Pemerintah Kota Bontang telah mengalokasikan dana stimulus pendidikan berupa beasiswa sebesar Rp10 Miliar. (Sal/adv)




