Di Balik Perlambatan Ekonomi Kutim, Sektor Non-Tambang Justru Melonjak 11 Persen

Penulis: Redaksi Expresi Rabu, 25 Maret 2026
Di Balik Perlambatan Ekonomi Kutim, Sektor Non-Tambang Justru Melonjak 11 Persen

‎EXPRESI.co, KUTIM — Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada 2025 tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan. Di balik dominasi sektor pertambangan yang melemah, sektor non-pertambangan justru menunjukkan pertumbuhan signifikan. ‎ ‎Data ini mengindikasikan bahwa struktur ekonomi Kutim mulai bergerak, meski masih dibayangi ketergantungan tinggi terhadap sektor tambang. ‎ ‎Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Januar Bayu Irawan, mengungkapkan jika sektor pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi daerah justru mengalami lonjakan cukup tinggi. ‎ ‎“Kalau kita keluarkan sektor pertambangan, justru pertumbuhan ekonomi kita naik. Tahun 2024 itu di angka 8,38 persen, dan tahun 2025 naik menjadi sekitar 11 persen,” ujar Januar saat diwawancarai. ‎ ‎Kenaikan tersebut menjadi indikator sektor-sektor lain mulai mengambil peran dalam menopang perekonomian daerah, pun kontribusinya belum sepenuhnya mampu menandingi dominasi pertambangan. ‎ ‎“Artinya ada kenaikan sekitar 2,5 persen. Ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam mendorong sektor non-pertambangan mulai membuahkan hasil,” tambahnya. ‎ ‎Selama ini, struktur ekonomi Kutim masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Ketergantungan ini membuat laju pertumbuhan ekonomi daerah sangat sensitif terhadap fluktuasi sektor tersebut. ‎ ‎“Memang harus kita akui, pertambangan masih mendominasi. Jadi ketika sektor itu sedikit saja turun, dampaknya langsung besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” jelasnya. ‎ ‎Di sisi lain, sejumlah sektor non-pertambangan justru mencatat kinerja positif. Sektor pertanian tumbuh 9,32 persen dengan kontribusi PDRB sebesar 10,96 persen. Industri pengolahan bahkan tumbuh 19,12 persen dengan kontribusi 5,81 persen. ‎ ‎Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 7,19 persen dengan kontribusi 5,81 persen, diikuti sektor perdagangan dan jasa yang juga mengalami peningkatan. ‎ ‎“Kalau dilihat dari sektor pertanian, industri, perdagangan, hingga jasa, itu sebenarnya tumbuh. Bahkan ketika kita hitung tanpa pertambangan, hasilnya justru lebih tinggi,” katanya. ‎ ‎Kondisi ini dinilai menjadi sinyal awal pergeseran struktur ekonomi Kutim, meski proses transformasi masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam mengurangi dominasi sektor berbasis sumber daya alam. ‎ ‎“Ini jadi bukti bahwa kita punya potensi besar di luar pertambangan. Tinggal bagaimana kita memperkuat sektor-sektor tersebut agar lebih berdaya saing,” ucapnya. ‎ ‎Ke depan, pemerintah daerah akan mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan sektor unggulan seperti pertanian, perkebunan, serta industri lokal, termasuk melalui kebijakan hilirisasi. ‎ ‎“Kita dorong hilirisasi juga, supaya produk yang dihasilkan tidak lagi dalam bentuk mentah, tapi sudah punya nilai tambah,” jelasnya. ‎ ‎Selain itu, dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga akan diperkuat sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi kerakyatan. ‎ ‎Dengan tren positif sektor non-pertambangan, Pemkab Kutim optimistis struktur ekonomi daerah akan semakin kuat dan tidak lagi terlalu rentan terhadap gejolak sektor tambang. ‎ ‎“Harapannya ke depan, kita tidak lagi terlalu bergantung pada pertambangan. Ekonomi kita harus lebih beragam dan berkelanjutan,” pungkas Januar.(Yuristio)

Bagikan