Dana Segar BPBD PPU Atasi Karhutla

PENAJAM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara masih berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan, yang terjadi beberapa bulan terakhir ini. Besarnya biaya operasional di lapangan menyebabkan dinas tersebut mesti dapat suntikan dana segar.
BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memperoleh dukungan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp180 juta.
Tambahan anggaran tersebut merupakan pencairan tahap kedua. Dana diberikan karena penanganan karhutla masih berlangsung dan membutuhkan dukungan operasional di lapangan.
Kepala BPBD PPU Nurlaila mengatakan, anggaran BTT itu dicair pada pertengahan September 2026. Dana tersebut langsung digunakan untuk mendukung operasional petugas yang masih melakukan penanganan di sejumlah lokasi.
“Sudah cair kemarin,” kata Nurlaila, Rabu (23/9/2026).
Menurut Nurlaila, tambahan anggaran diajukan setelah dana BTT sebelumnya sebesar Rp107 juta habis digunakan untuk penanganan karhutla. Kebutuhan operasional meningkat seiring tingginya intensitas kebakaran sepanjang Agustus hingga September 2026.
145 Kejadian, 282 Hektare Terbakar
Tingginya kebutuhan operasional tersebut sejalan dengan jumlah kejadian karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah PPU.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD PPU yang disinkronkan dengan laporan delapan posko Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), tercatat 145 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 282,68 hektare sejak Januari hingga 15 September 2026.
Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 79 kejadian dengan luas lahan terbakar 162,32 hektare. Selanjutnya, Kecamatan Babulu mencatat 37 kejadian dengan luas sekitar 42 hektare.
Kecamatan Sepaku 18 kejadian dengan luas sekitar 54 hektare, sedangkan Kecamatan Waru mencatat 11 kejadian dengan luas sekitar 23 hektare. Nurlaila mengatakan pola karhutla tahun ini lebih tersebar dibandingkan periode El Nino pada 2015, 2019, dan 2023.
Titik kebakaran tidak hanya terkonsentrasi di Kecamatan Penajam, tetapi juga ditemukan di wilayah Sepaku dan Babulu.
Petugas Tak Menunggu Api Membesar
Dalam penanganan karhutla, BPBD PPU tidak menunggu kebakaran membesar untuk mengerahkan personel. Setiap laporan mengenai kemunculan asap atau titik api segera ditindaklanjuti bersama petugas pemadam dan masyarakat.
Penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai dari masyarakat peduli api (MPA), kelompok tanggap bencana (KTB), warga sekitar hingga petugas pemadam kebakaran.
Untuk menjangkau lokasi yang sulit dilalui kendaraan pemadam, BPBD PPU menggunakan metode pemindahan air dengan flexible tank.
Air diangkut menggunakan kendaraan hingga titik terakhir yang dapat dijangkau. Selanjutnya, air dipindahkan ke tangki fleksibel dan dipompa menggunakan pompa portabel menuju lokasi kebakaran.
“Kalau memang lokasi itu tidak ada sumber airnya, biasanya kita menggunakan teknik pakai flexible tank. Air itu ditransfer dari lokasi terakhir mobil pemadam bisa masuk, ditransfer ke flexible tank. Nanti dari flexible tank kita pompa pakai pompa portable,” jelasnya.
BPBD Juga Distribusikan Air Bersih
Di tengah penanganan karhutla, BPBD PPU juga masih menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekurangan air. Kebutuhan distribusi meningkat karena sebagian sumber air warga mulai mengering akibat kemarau panjang.
Nurlaila mengatakan BPBD PPU masih memanfaatkan sumber air yang tersedia, termasuk embung dan sumur bor di Gunung Intan, untuk mendukung distribusi air bersih.
“Untuk air bersih kita masih belum beli. Masih kita manfaatkan embung, kemudian di Gunung Intan ada sumber bor juga,” pungkasnya. (ADV)




