Beruang Madu Masuk Permukiman di Telen Kutim, BKSDA Turun Pasang Perangkap

Penulis: Redaksi Expresi Senin, 6 April 2026
Beruang Madu Masuk Permukiman di Telen Kutim, BKSDA Turun Pasang Perangkap

EXPRESI.co, KUTIM — Aktivitas beruang madu yang mendekati permukiman warga di Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur, mulai meresahkan. ‎ ‎Satwa liar tersebut dilaporkan merusak kandang ternak hingga masuk ke rumah warga untuk mencari makanan. ‎ ‎Menindaklanjuti kondisi tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur langsung turun tangan melakukan penanganan di lokasi. ‎ ‎Laporan awal kemunculan beruang diterima dari masyarakat pada 31 Maret 2026 melalui Call Center BKSDA Kaltim. Informasi itu menyebutkan adanya aktivitas beruang di sekitar permukiman, termasuk indikasi gangguan terhadap ternak. ‎ ‎Sehari setelah laporan diterima, tim BKSDA langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pengecekan sekaligus langkah penanganan awal. ‎ ‎Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, mengatakan pihaknya segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan turun langsung ke lapangan. ‎ ‎“Perintah dari kepala seksi langsung ditindaklanjuti. Kami tanggal 1 langsung turun ke lokasi untuk mengecek dan melakukan penanganan awal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu 5 April 2026. ‎ ‎Di lokasi, tim memasang kandang jebak di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur lintasan beruang. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan satwa tanpa membahayakan warga maupun hewan tersebut. ‎ ‎Selain itu, BKSDA juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait keberadaan beruang madu yang merupakan satwa dilindungi. ‎ ‎“Kami sampaikan ke masyarakat bahwa beruang madu ini satwa dilindungi. Kalau bertemu, sebaiknya tidak diganggu, cukup diusir secara aman,” katanya. ‎ ‎Kemunculan beruang diketahui terjadi di area pinggiran desa yang berbatasan langsung dengan sungai dan kawasan hutan. Kondisi ini diduga menjadi jalur alami satwa keluar dari habitatnya menuju permukiman. ‎ ‎“Lokasinya itu di pinggir desa, dekat sungai dan masih berbatasan dengan hutan. Jadi kemungkinan besar beruang ini keluar dari hutan untuk mencari makan,” ujarnya. ‎ ‎Warga melaporkan sejumlah kerugian akibat kemunculan satwa tersebut. Kandang ayam rusak, telur ternak dimakan, hingga beberapa rumah warga dimasuki beruang untuk mencari bahan makanan. ‎ ‎“Biasanya dia cari makanan seperti telur, gula, atau kecap. Jadi memang bukan hanya madu yang dicari,” ungkapnya. ‎ ‎Menurut Ahmad Ripai, secara alami beruang madu tidak berbahaya selama tidak merasa terancam. Namun, perubahan kondisi habitat menjadi salah satu faktor yang mendorong satwa keluar dari hutan. ‎ ‎“Kalau tidak diganggu, sebenarnya tidak membahayakan. Tapi sekarang habitatnya mulai terganggu, apalagi saat musim kemarau, makanan di hutan berkurang, sehingga mereka keluar mencari makan,” terangnya. ‎ ‎Meski demikian, proses penanganan beruang tidak mudah. Satwa ini dikenal aktif pada malam hari dan sangat sensitif terhadap kehadiran manusia. ‎ ‎“Kendala kami, beruang ini aktifnya malam hari. Kalau siang dia jarang terlihat, begitu tahu ada manusia langsung kabur. Jadi agak sulit kalau mau ditangkap dengan pembius,” jelasnya. ‎ ‎Ia menambahkan, penggunaan kandang jebak membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, proses penangkapan bisa berlangsung cukup lama. ‎ ‎“Dulu kami pernah menangani di daerah Senoni, itu juga pakai kandang jebak dan butuh waktu cukup lama sampai berhasil,” katanya. ‎ ‎Terkait jumlah beruang yang muncul, pihak BKSDA belum dapat memastikan. Informasi yang diterima masih sebatas laporan warga dan jejak di lapangan. ‎ ‎“Kami belum bisa memastikan jumlahnya, karena belum ada yang melihat langsung atau memfoto. Baru sebatas jejak dan laporan warga saja,” ujarnya. ‎ ‎BKSDA Kaltim pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada sekaligus tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan satwa tersebut. ‎ ‎“Kami berharap masyarakat bisa lebih peduli terhadap satwa liar, karena mereka juga bagian dari ekosistem yang harus dijaga,” tutupnya.(Yuristio)

Bagikan